Minggu, 15 Februari 2015

Galatia 3 : 26 - 29



 JANJI HARUS DITEPATI

Sebagai manusia adalah mudah bagi kita untuk berjanji, namun untuk menepati janji itu tidaklah gampang, bahkan seringkali meleset.  Banyak orang kecewa karena orang yang diharapkan ternyata telah ingkar janji.  Seorang pemuda berjanji hendak menikahi seorang gadis, ternyata janji itu tidak ia tepati, ia malah berpaling ke lain hati dan meninggalkan gadis itu.  Janji manusia seringkali berujung pada kekecewaan, padahal pepatah dunia mengatakan bahwa janji adalah utang, sebab itu bayarlah janjimu supaya jangan berutang.
Bagaimana dengan Tuhan kalau Dia berjanji?  Alkitab menyatakan bahwa  "Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya,"  (2 Petrus 3:9a) dan  "Janji Tuhan adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah."  (Mazmur 12:7).  Karena itu jangan pernah ragu akan janji Tuhan.  Ketika berada dalam pergumulan yang berat jangan pernah putus pengharapan.  Jangan melihat kepada berapa besar persoalan yang kita alami, tetapi lihat dengan mata iman betapa besar kuasa dan kemampuan Tuhan kita karena kuasaNya sungguh tak terbatas untuk menolong umatNya.
Janji Tuhan itu ibarat cek yang diberikan kepada kita. Cek itu walaupun sudah diserahkan kepada pihak yang menerima, tetapi selama cek tersebut tidak pernah dicairkan atau diuangkan ke bank, maka cek itu hanya akan menjadi selembar kertas saja. Cek baru berharga jika dibawa ke bank dan diuangkan, lalu kita menerima uang sejumlah yang tertulis di dalam cek tersebut. Sama dengan cerita seorang ibu yang terus dikirimi oleh anaknya wessel setiap bulan. Semakin lama si-ibu ini mengalami sakit yang parah karena kemiskinan, dia tidak mempunyai uang untuk membeli obat. Ketika anaknya pulang dari perantauan, dia sangat heran dengan kondisi ibunya. Dia mempertanyakan wessel yang tiap bulan dikirimkan. Si-ibu mengatakan itu hanya surat dan semua disimpan di bawah tempat tidur. Jelaslah, si-ibu ini akhirnya sakit-sakit karena kemiskinan tanpa menyadari bahwa dia mempunyai wessel  yang sebenarnya adalah uang. Wessel adalah uang bila ditukarkan ke bank atau kantor pos.
            Demikian pula sebenarnya Tuhan telah memberikan kepada kita begitu banyak “cek atau wessel” yang berisi janji-janji Tuhan di dalam kehidupan kita, dan semuanya tertulis di dalam Alkitab. Tetapi selama kita belum “menguangkannya” yaitu dengan cara mengimani janji-janji tersebut, maka janji tersebut hanya akan menjadi tulisan-tulisan yang tidak berarti, malah akan lewat begitu saja seperti angin yang datang dan pergi di dalam kehidupan kita ini.
            Itulah sebabnya mengapa bagi sebagian orang Alkitab hanyalah merupakan tulisan-tulisan biasa, akan tetapi bagi sebagian orang lainnya, Alkitab adalah sesuatu yang sangat berharga, bahkan penuh dengan janji-janji Tuhan. Mengapa bagi sebagian orang, mereka bisa merasa kagum dan sangat bersyukur kepada Tuhan ketika membaca suatu ayat? Karena mereka telah menemukan janji Tuhan yang tepat bagi mereka, Firman Tuhan memberikan jaminan di dalam kehidupannya; sementara bagi yang lain, ayat itu hanyalah ayat biasa tanpa makna yang istimewa.
            Kepada siapakah sebenarnya janji Tuhan itu? Semuanya itu diberikan kepada setiap orang yang telah menjadi anak-anak Allah. Kita semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus (ay. 26). Ketika kita percaya kepada Tuhan, maka status kita diubah dari anak-anak Iblis (anak-anak dosa) menjadi anak-anak Allah. Kita yang telah dibaptis dalam Kristus, yaitu yang telah meninggalkan hidup kita yang lama, maka kita akan mengenakan Kristus dalam hidup kita (ay. 27). Firman Tuhan di dalam II Korintus 5:17 jelas mengatakan : “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu” Sama seperti nyanyian “LAIN DULU LAIN SEKARANG, KINI KUHIDUP DI DALAM TUHAN, BERKAT YANG MELIMPAHI DIBERIKANNYA, TERIMA KASIH TUHAN Ketika kita telah dibaptis dalam Kristus, maka kita pun hidup bukan hanya bagi diri kita sendiri, melainkan harus hidup bagi Tuhan.
            Dalam hal ini, status kita sebagai anak-anak Allah bukan tergantung dari suku kita, atau dari status sosial kita, atau jenis kelamin kita apa kita perempuan atau laki-laki, atau siapa orang tua kita. Semua orang bisa menjadi anak-anak Allah, selama kita mau percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Lebih lagi, semua orang yang telah menerima Yesus Kristus menjadi satu kesatuan di dalam Kristus Yesus. Anak-anak Allah tidak dapat dibeda-bedakan apakah mereka orang Yahudi atau Yunani, karena sesungguhnya identitas mereka hanya satu, yaitu anak-anak Allah (ay. 28) yang berhak menerima janji Allah.
            Janji Allah yang paling terkenal adalah janji kepada Abraham, yaitu janji berkat yang Tuhan janjikan kepada Abraham. Abraham mewujudkan janji-janji Tuhan  di dalam komitmen, kesetian, dan Imannya kepada Tuhan. Orang-orang Yahudi memang adalah keturunan langsung Abraham yang memiliki hak untuk mendapatkan janji-janji Abraham tersebut karena mereka adalah ahli waris Abraham. Akan tetapi, di dalam Kristus, kita menjadi keturunan-keturunan Abraham yang baru di dalam iman. Karena itu, kita masuk di dalam bagian janji-janji Tuhan. Ketika kita percaya kepada Kristus, maka kita pun secara otomatis mendapatkan hak atas janji-janji Abraham karena Kristus pun merupakan keturunan Abraham, bahkan lebih dari itu, karena kita mendapatkan  janji langsung dari Tuhan sendiri.
            Permasalahannya tidak hanya berhenti sampai di situ. Janji tinggal hanya janji bila kita tidak wujudkan di dalam kesetian, komitmen, dan iman kepercayaan kita kepada Tuhan. Kita harus sampai pada tahap mengaktualisasikan janji-janji Tuhan itu. Kita sudah punya hak berupa janji-janji Tuhan, jangan sampai hidup kita berakhir tanpa sekalipun kita merasakan janji-janji Tuhan itu. Hidup kita akan  jauh lebih berarti ketika kita sudah merasakan janji-janji Tuhan, misalnya janji kesembuhan, janji berkat, janji keselamatan, janji penyertaan Tuhan, dan lain sebagainya. Begitu banyak janji-janji Tuhan yang ada dalam Firman Tuhan, tinggal bagaimana kita mampu merealisasikan janji-janji tersebut.Amen

Matius 21 : 33 - 41



 Kita adalah kawan sekerja Allah

Yesus membuat perumpamaan tentang penggarap kebun anggur untuk menjawab pertanyaan imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat yang tidak senang milihat Yesus. Seorang pemilik tanah yang mempunyai lahan yang luas dan dia berpikir sangat cocok untuk menanam pohon anggur di kebunnya dan diapun mulai mengerjakan kebunnya tersebut. Pohon anggurpun telah siap di tanami sambil menunggu hasilnya si tuan tanah menyewakan kebun anggurnya kepada pengarap-penggarap atau para petani, karena ia harus menunggu empat tahun lamanya pohon anggurnya akan menghasilkan buah. Setelah segala sesuatunya telah dipersiapkan dia untuk kebun anggurnya si tuan tanahpun pergi meninggalkan kebun anggurnya. Selama dia pergi, penggarap-penggarap mengurus kebun anggurnya dengan baik. Kebun anggur tersebut telah menghasilkan lalu ia menyuruh hambanya untuk datang kepada para penggarap untuk mengambil hasil kebunnya, tetapi para penggarap menangkap, memukulnya dan menyuruhnya pulang dengan tangan hampa, Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka dan orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Kemudian dengan sabar si tuan tanah kembali mengirimkan hambanya yang lain, tetapi hamba tersebut ditangkap, dipukuli, dan dikirim kembali kepada tuannya dengan muka memar-memar serta memberi pesan kepada si tuan tanah bahwa penggarap-penggarap kebun anggur tidak ingin membayar atau membagi hasil panen kebun anggur tersebut serta mengirim kembali hambanya yang sudah dipukulinya dengan tangan hampa. Pemilik kebun masih sabar dan ia sadar bahwa penggarap-penggarap telah bersikap sebagai pemilik yang sah dari harta miliknya lalu dia mengirimkan anaknya, dengan perkiraan bahwa para penggarap akan memberikan hasil panennya pada anaknya dan mereka akan menghargai anaknya. Lalu dia mengirim anak satu-satunya yang merupakan pewaris kebun anggur itu. Tetapi penggarap-penggarap kebun tidak tergerak untuk menyerahkan hasil kebun anggur. Ketika melihat anak itu mendekat, mereka berpikir bahwa pemilik kebun telah mati dan anaknya yang akan menggantikan dia. Para penggarap memutuskan untuk membunuh anak itu di luar kebun anggur dan mengambil warisannya. Pemilik kebun sangat marah dan kecewa lalu mengusir para penggarap kebun serta membawa mereka ke pengadilan, dia menuntut hak penuh atas harta miliknya, dan menunjuk penggarap-penggarap lain untuk merawat kebun anggurnya. Orang-orang ini adalah hamba-hamba yang akan memberi dia bagian hasil yang sudah ditentukan pada waktu musim panen. Bagaimana kita menyikapi perilaku para penggarap kebun anggur tersebut yang mau mengambil yang tidak miliknya. Padahal mereka hanya sebagai pekerja untuk menjaga kebun anggur hingga berbuah. Mereka tidak menunjukkan sikap yang benar sebagai pekerja. Pada waktu kebun anggur itu berbuah mereka tidak memberikan apa yang seharusnya mereka berikan kepada pemilik kebun. Bukannya berterima kasih karena diajak mengambil bagian dari kebun itu mereka malah bertindak kejam dengan memukul, melempari dengan batu dan membunuh utusan-utusan si tuan tanah sampai pada akhinya mereka membunuh anak si-tuan tanah itu dengan berharap mengambil alih hak waris.
Jemaat Tuhan yang dikasihi Yesus
1.      Didalam kehidupan kitapun sehari-hari sering terjadi hal demikian. sudah di kasih yang ini mau yang itu, udah dikasih yang itu mau yang ini. Dalam pepatah Indonesia dikatakan “sudah dikasih jantung lalu meminta hati”. Tidak pernah merasa puas.  Keserakahan dan ketamakan membuat banyak orang tidak tahu berterimakasih, bahkan tidak menyadari siapakah diri kita sendiri di tengah kehidupan dunia ini.
2.      Sikap tuan pemilik kebun anggur tersebut mencerminkan sikap Allah yang berkenan melibatkan umatNya sebagai kawan sekerjaNya. Tetapi kita selaku umat yang menjadi para pekerja dalam kerajaanNya ternyata sering membalas kebaikan kasih Allah dengan tindakan yang jahat. Seperti peribahasa  berkata: “ Air susu dibalas dengan air tuba”. Hasil panen yang seharusnya menjadi hak Allah berusaha kita rebut seluruhnya. Bilamana Allah memberikan kepada kita berbagai berkat rezeki yang berlimpah, maka kita begitu kikir dan tidak menginginkan sebagian dari berkat rezeki tersebut disalurkan untuk mendukung pekerjaan Tuhan dan karyaNya. Kita enggan memberikan kepada Tuhan apa yang menjadi hakNya, sehingga kita juga enggan menyalurkannya untuk sesama yang membutuhkan. Intinya manusia selalu ingin memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya dan kalau perlu dia berusaha merebut apa yang sebenarnya bukan haknya. Para pekerja kebun anggur itu ternyata  bukan hanya mengambil hak yang menjadi wewenang Allah, tetapi juga mereka ingin merampas kebun anggur Allah dengan cara membunuh Kristus, Anak Allah.
3.      Bayangkan berapa banyak orang sepanjang 2.000 tahun ini yang telah membuat kesalahan yang sama. Pada setiap zaman, orang-orang yang memiliki kekuasaan, orang-orang yang hidup nyaman dan kaya-raya seringkali menolak Yesus. Barangkali lebih mudah bagi orang-orang miskin, orang-orang sakit, dan orang-orang yang yang tersisihkan dalam masyarakat melihat kebutuhan mereka. Ini adalah orang-orang yang merangkul Yesus ketika Dia berada di dunia. Orang-orang itu tidak dapat berpaling ke mana-mana kecuali kepada Yesus, yang mereka percayai sebagai Dia yang dapat membuat diri mereka utuh.
4.      Bilamana Allah di dalam Kristus adalah Allah yang terus bekerja menyelamatkan umatNya, maka kita selaku kawan sekerjaNya wajib melakukan pekerjaan dan pelayanan yang dipercayakan kepada kita dengan penuh rasa tanggungjawab, bahkan dengan segenap hati dan jiwa kita.   Di dalam karya penebusan Kristus, kita yang sebenarnya tidak layak telah diberi anugerah untuk menjadi mitra Allah. Sehingga setiap aspek pekerjaan yang kita lakukan pada prinsipnya kita lakukan dengan nilai-nilai etos sebagai kawan sekerja Allah. Dalam hal ini kita perlu senantiasa ingat bahwa status kita hanyalah sebagai pengelola, dan bukan pemilik “kebun anggur”. Sehingga kita tidak boleh mengambil atau merampas apa yang bukan menjadi hak atau bagian kita.
5.      Di tengah-tengah dunia yang kerapkali jauh dari sikap takut akan Tuhan, maka selaku pekerja Kristus kita wajib berjalan menurut norma-norma firman Tuhan sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Sepuluh Firman Tuhan (Kel. 20:1-17). Kita perlu terus mengedepankan integritas iman dan spiritualitas kita, sehingga tidak terbuka celah sedikitpun dari kuasa dunia untuk mempengaruhi kita menjadi para pekerja yang berhati jahat. Mungkin semula kita menjadi para pekerja yang setia dan bertanggungjawab dalam ladang Kerajaan Allah. Tetapi setelah itu kita berubah menjadi  para pekerja yang tergoda untuk mengambil dan merebut apa yang menjadi hak milik Allah. Karena itu marilah kita mengarahkan seluruh orientasi hidup kita kepada Kristus sebagai satu-satunya tujuan utama dari seluruh pekerjaan dan pelayanan kita. Amin.

2 Korintus 8 : 5



2 Korintus 8 : 5
Mereka memberikan lebih banyak daripada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.

Diberkati untuk memberkati, diberi untuk memberi. Inilah sebenarnya tugas utama anak-anak Tuhan. Lantas pertanyaannya, bagaimana jika kita merasa belum cukup “diberkati”, apakah kita tetap harus memberi? Sesungguhnya kalau mau jujur, sangatlah sulit bagi kita untuk bisa merasa cukup. Manusia cenderung merasa kurang dan terus kurang sehingga merasa tidak kunjung sanggup untuk memberi. Semakin banyak yang kita punya, maka semakin banyak pula rasanya yang kita tidak punya. Oleh karenanya kita pun terus meminta ketimbang berpikir untuk memberi. “Ah nanti saja kalau sudah kaya, sudah makmur, kalau sekarang belum sanggup rasanya. Anehnya sudah kaya pun, masih merasa kekurangan dan tidak juga dapat berbagi kepada orang lain.
Di dalam perikop ini, kita belajar dan melihat sekelompok orang-orang percaya yang ada di Makedonia yang mengerti apa artinya kebahagiaan dalam memberi. Jemaat di Makedonia dikatakan :"Mereka ambil bagian didalam pelayanan kepada orang-orang kudus". Kata pelayanan yang dipakai di sana dalam bahasa aslinya menggunakan kata diakonia. Paulus melihat sikap Jemaat Makedonia sebagai contoh teladan yang memberikan inspirasi. Jemaat di Makedonia bukan contoh yang biasa tetapi luar biasa karenak saat itu mereka berada dalam penderitaan berat dan mereka sendiri sangat miskin tetapi penderitaan itu tidak merampas sukacita mereka. Kemiskinan tidak melunturkan semangat membantu mereka. Dalam situasi yang sulit, mereka melakukan apa yang kita pikir tidak mungkin mereka lakukan tetapi mereka melakukannya. Mereka betul sangat miskin tetapi kaya dalam kemurahan. Kemiskinan mereka tidak menghalangi mereka untuk bermurah hati.
Secara naluri manusiawi, manusia pada hakekatnya lebih suka menerima dari pada memberi. Sekarang ini tidak sedikit orang yang berpikir bahwa ketika ia memberi maka miliknya berkurang, ketika ia menerima maka miliknya bertambah.  Kita hidup di masyarakat yang dipenuhi keinginan untuk menerima atau mendapat bukan memberi. Getting bukan giving. “Senang menerima” adalah hal yang lumrah, tetapi “senang memberi”, adalah hal yang sulit ditemukan. Arti “memberi” adalah melepaskan atau menyerahkan apa yang kita miliki. Sedangkan arti “menerima” adalah mendapatkan apa yang akan menjadi milik kita. Jadi suka yang mana? Pada umumnya orang-orang akan berkata, “Saya lebih suka menerima daripada memberi.” Memang tidak mudah dari sikap “yang menerima” menjadi “memberi”, apa lagi memberi dengan sukacita, kecuali karena kasih Allah menguasai diri orang itu. Memberi lebih merupakan masalah hati daripada masalah keadaan. Artinya, bukan karena banyaknya harta atau sedikit, kalau hatinya jauh, mau banyak atau sedikit sama saja.
Kasih adalah hal yang paling mendasar dalam memberi, sebab arti lain dari memberi adalah mengorbankan. Allah sendiri dengan kasih yang besar sehingga ia menyerahkan Anak-Nya yang tunggal (Yoh 3:16). Jadi, jika kita memiliki kasih, maka kita bisa memberi. Tanpa kasih, kita akan bersungut-sungut. Pemberian janda miskin dalam Lukas 21 hanya dua peser (=1 sen/duit, mata uang yang paling kecil), tetapi Yesus memperhitungkannya besar. Janda itu melakukannya atas dorongan kasihnya kepada Allah sebab ia menyadari bahwa kasih Allah jauh lebih besar dari hidup yang dia miliki.
Kita tidak akan pernah kekurangan setelah memberi dengan kerelaan hati dan sukacita, justru Tuhan akan terus melipat gandakan apapun di dalam kehidupan kita supaya kita mampu mencukupi kebutuhan kita, terlebih pula agar kita mampu memberkati orang lain lebih dan lebih lagi. Kita diberkati untuk memberkati, kita diberi untuk memberi. Hati yang bersukacita dalam memberi tidak akan memandang kekurangan atau keterbatasan diri sendiri, tetapi mampu melihat dengan penuh rasa syukur bagaimana Tuhan selama ini telah memberkati kita.
Memberi Dengan Suka Rela adalah Ujian Iman Iman yang benar. Memberi yang baik harus dilaksanakan dengan sukarela, dasarnya ialah iman yang benar. Artinya , kita harus percaya bahwa Tuhan tidak akan membuat kita kekurangan, seperti JANDA DI SARFAT. Jika selama ini kita memberi dengan mengharapkan imbalan itu bukan iklas/sukarela, Jika memberi dengan paksaaan dan menyatakan bahwa memberi adalah kewajiban yang menjadi pengikat itu juga tidak ikhlas. Oleh karenanya yang memberi dengan iklas adalah mereka yang memberi dengan tidak mengharapkan imbalan, tetapi ucapan syukur atas kasih Tuhan. Dan memberi dengan iklas juga bukan untuk membanggakan diri namun untuk memuji dan memuliakan serta berbangga bagi Kasih Tuhan yang sudah kita terima. pada saat itulah iman kita diuji dalam memberi iklas atau tidak iklas.

Jadilah orang murah hati seperti Bapa adalah murah hati- Memberi menjadikan kita serupa dengan Kristus
Ada seorang anak miskin, berdiri di depan sebuah toko roti di USA, dia hanya bisa bilang saya pingin roti itu, rasanya pasti enak, tapi saya tidak bisa membelinya karena tidak punya uang. Dia hanya bisa menatap roti itu dari luar toko saja. Tiba-tiba ada seorang Bapa yang melihat anak itu, dan menyakan kepadanya “apakah kamu suka roti itu?” anak itu menjawab “ya” tapi saya tidak punya uang. Bapa ini masuk ke dalam toko roti itu dan membeli beberapa roti dan keluar lalu memberikannya kepada anak miskin ini. Anak miskin ini selalu diceritakan oleh ibunya tentang Yesus yang suka memberi. Melihat bapa ini yang memberikan roti dan mengingat cerita ibunya tentang Yesus, maka ketika anak ini menerima roti dari si Bapa ini, anak ini bertanya kepada Bapa ini: “Are You Jesus?”
Dalam pikiran seorang anak kecil yang sederhana, Yesus itu mempunya sifat yang sangat mulia yaitu – Selalu mau memberi. Oleh karena itu orang yang mau memberi disangkanya ia adalah Yesus.
Orang yang memberi diri kepada Allah berarti orang tersebut memberi dirinya untuk dibentuk Allah dan mengarahkan hidupnya sesuai dengan apa yang Tuhan mau. Orang yang memberi diri kepada Allah adalah orang yang bisa berkata :"Ini diriku, ini hidupku, bentuklah dan pakailah".  Pemberian yang benar selalu mencakup pemberian diri bukan sekedar pemberian uang. Di sanalah ia dimampukan oleh Allah sendiri untuk menjadi orang-orang yang bisa bermurah hati. Jika orang benar-benar mengalami anugerah dalam hidupnya maka ia tidak akan memakai kesulitan hidupnya sebagai alasan untuk tidak memberi. Amen

Filipi 1 : 20 – 21




FIlipi 1 : 20 - 21

Tentunya, masih ingat di pikiran kita tentang cerita Titanic? Film tersebut diambil dari sebuah kisah nyata yang terjadi pada tahun 1912. Waktu itu malam hari tanggal 14 April 1912, pada pukul 23.40 malam, kapal itu menabrak gunung es lalu gunung es tersebut menggesek dengan amat kerasnya sisi kanan kapal, sehingga menghujani dek dengan es dan mengoyakkan enam bilik yang kedap air. Air yang sangat dingin masuk ke dalamnya. Menurut laporan dokumentasi, segera kapal akan tenggelam. Di atas kapal malam itu ada John Harper dan putri kesayangannya, Nana, yang berusia enam tahun. John Harper langsung membawa putrinya menuju sekoci penyelamat. Ia membungkuk dan mencium putri kecilnya yang amat berharga baginya; ditatapnya mata anak itu sambil berkata bahwa mereka akan berjumpa kembali satu hari kelak. Kilatan-kilatan di langit yang gelap di atas memantulkan air mata di wajahnya ketika ia berbalik dan menuju kerumunan orang yang putus asa di atas kapal yang sedang tenggelam itu.
Ketika buritan kapal mulai terayun ke atas, dilaporkan bahwa Harper tampak berusaha mendaki dek sambil berteriak "Wanita, anak-anak dan mereka yang belum diselamatkan masuk ke dalam sekoci!" Hanya beberapa menit kemudian, Titanic mulai terdengar bergemuruh jauh di bagian dalamnya. Banyak orang yang menyangka bahwa itu merupakan ledakan; padahal sebenarnya kapal raksasa itu secara harfiah sedang terbelah dua. Pada saat itu banyak orang yang melompat dari dek terjun ke dalam air es yang gelap di bawah. John Harper termasuk salah satu di antaranya. Malam itu 1528 orang masuk ke dalam air yang membekukan itu. John Harper tampak berenang dengan tergopoh-gopoh kepada orang-orang dan memimpin mereka kepada Yesus sebelum hipotermia (keadaan suhu tubuh di bawah titik terendah) menjadi fatal. Harper berenang menuju seorang pemuda yang telah naik ke atas kepingan yang terapung. Dengan napas terengah-engah ia bertanya, "Apakah anda sudah diselamatkan?" Pemuda itu menjawab belum. Harper kemudian mencoba menuntunnya kepada Kristus hanya untuk menerima jawaban tidak dari pemuda yang sedang shock itu. Harper membuka jaket penyelamatnya dan melemparkannya kepada pemuda itu sambil berkata "Kalau begitu ini, Anda lebih membutuhkannya daripadaku" dan kemudian berenang menuju orang-orang lain. Beberapa menit kemudian Harper berenang kembali mendekati pemuda tadi dan berhasil memimpinnya untuk menerima keselamatan.
Dari 1528 orang yang masuk ke dalam air malam itu, enam di antaranya diselamatkan oleh sekoci-sekoci penolong. Salah satu di antaranya adalah pemuda yang naik kepingan yang terapung tadi. Empat tahun kemudian pada suatu pertemuan bagi mereka yang selamat, pemuda ini berdiri dan dengan air mata bercucuran mengisahkan kembali bagaimana John Harper, setelah menuntunnya kepada Kristus, berusaha berenang kembali untuk menolong orang lain, namun oleh karena air yang dingin seperti es itu, maka ia telah menjadi terlalu lemah untuk berenang. Kata-kata terakhir sebelum ia tenggelam di dalam air yang membekukan itu ialah "Percayalah kepada Tuhan Yesus dan anda akan diselamatkan". (Sumber: internet).
Kisah di atas menunjukkan kepada kita betapa besar pengorbanan seorang demi menyelamatkan jiwa sesamanya di saat detik-detik terakhir kehidupan. Dia telah melaksanakan amanat Tuhan sampai akhir hidupnya. Ini merupakan suatu teladan yang baik bagi kita, orang Kristen. Kita tidak dituntut untuk mengorbankan nyawa kita demi Tuhan dan sesama kita, sebagaiman kisah John Happer di atas. Kita diminta untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama seperti diri sendiri (baca Matius 22: 37 – 40). Janganlah malu melakukan kehendak-Nya, (baca Lukas 9: 26).

Hal ini telah disampaikan Rasul Paulus dalam suratnya yang kedua kepada jemaat Tuhan di Filipi, demikian: “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku; Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1: 20-21). Sekalipun berada di penjara, Paulus tidak merasa malu.  Ia tidak sibuk memikirkan harga diri dan kemuliaannya sendiri. Rasul Paulus memiliki suatu kerinduan yang begitu mendalam dalam hidupnya. Dari Filipi 1:20 kita mengetahui dengan jelas bahwa yang sangat dirindukan oleh rasul Paulus adalah bahwa dalam segala hal yang dikerjakannya Kristus dengan nyata diagungkan, ditinggikan, dan dimuliakan.
Paulus tidak merasa malu untuk memberitakan nama Kristus walaupun dia di dalam penjara. Bagaimana dengan kita? Bukankah kita malu untuk mewartakan Kristus di dalam kehidupan kita? Malu bila berdoa makan di restoran di mana di sana ada banyak orang. Malu membawa Alkitab pergi ke gereja, bahkan malu kalau diketahui orang lain sebagai Kristen.
Akan tetapi, Paulus sedang di dalam penantian hukuman mati. Seandainya, kita menghadapi pilihan antara mati dan hidup, apalagi untuk memilih Kristus, pilihan mana yang akan kita tetapkan? ......................(coba kita renungkan dengan sedalam-dalamnya?) Ketika kita diperhadapkan pada sebuah pilihan, Kristus atau nyawa kita, kita mungkin akan menyangkali Kristus demi menyelamatkan nyawa kita.
Kematian dapat menjadi sebuah ancaman bagi pencapaian tujuan hidup kita. Kematian dapat menggagalkan semua rencana yang telah kita buat. Kematian dapat merampas segala sesuatu yang berharga dalam hidup kita. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa kematian terasa menakutkan bagi sebagian orang. Para pemuda mungkin takut mati karena mereka belum mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam hidup ini dan para orang tua mungkin takut mati karena kuatir terhadap nasib anak-cucu mereka yang begitu mereka kasihi. Akan tetapi, yang menjadi harta terbesar, pusat perhatian, dan tujuan utama rasul Paulus adalah Kristus. Itulah sebabnya ia tidak pernah memandang kematian sebagai sebuah ancaman yang menakutkan, yang dapat menggagalkan tujuan hidupnya. Sebaliknya, dia justru memandang kematian sebagai sebuah kesempatan yang baik bagi pencapaian tujuan hidupnya yang terutama, yaitu mendapatkan Kristus sebagai harta terbesar dalam hidupnya.
Bagi kita hidup dan mati mungkin Nampak seperti dua hal yang saling berlawanan, hidup ya hidup, mati ya mati. Urusan hidup untuk duniawi tetapi kalau mau mati baru kepada Tuhan. Hal ini tidak benar, hidup dan mati kita adalah Kristus supaya apapun terjadi di dalam kehidupan kita, itu semua adalah keuntungan karena kita sudah memiliki Kristus. Itulah sebabnya dalam Filipi 1:21 Paulus mengatakan: “karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Baik hidup dan mati kita adalah di dalam Kristus. Amen

Mazmur 84 : 1 - 7

Mazmur 84 : 1 - 7 84:1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur bani Korah.  84-2 Betapa disenangi tempat kediaman-Mu ,  ya ...