Senin, 10 September 2012

Matius 16 : 13 – 20

Siapakah si dia itu?  Mungkin tidak sulit untuk menjawabnya melalui berbagai pengetahuan atau curriculum vitae tentang seseorang itu. Apa lagi bila mengetahui orang yang terkenal di jaman sekarang ini tidak sesulit jaman dulu. Dengan kemajuan teknologi internet, facebook dll semua bisa dicari. Namun bila ditanya siapakah seseorang itu secara dalam, mengetahui apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, inilah yang sulit.
Seperti itulah gambaran tanya jawab antara Yesus dengan para muridNya. Yesus bertanya kepada murid-muridNya tentang siapakah Dia? Para murid mengatakan  bahwa Yesus itu Yohanes Pembabtis, Elia, Yeremia atau salah satu dari para nabi. Apa yang dikatakan murid itu sebenarnya tidaklah salah karena mereka telah melihat dan menyaksikan langsung apa yang diperbuat Yesus bersama dengan mereka. Seperti yang mereka ketahui bahwa sangat mirip apa yang dilakukan oleh Yesus dengan nama orang-orang yang disebut di atas. Namun mereka tidak mengerti pertanyaan apakah maksud Yesus mengatakan sedemikian.
Itu sebabnya Yesus bertanya kembali tentang siapakah Aku ini? Pertanyaan ini ingin mempertegas kembali kepada murid-muridNya bahwa apakah mereka belum mengenal Yesus itu sedemikian dalam. Bukankah mereka telah lama bersama-sama di dalam pelayanan yang dilakukan oleh Yesus. Mereka telah menyaksikan mujizat dan khotbah yang disampaikan oleh Yesus. Namun mereka belum mengenal Yesus dengan sempurna. Bisa saja terjadi hal yang seperti ini di dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya masa berpacaran, walaupun sudah bertahun-tahun pacaran tetapi belum tentu mengenal secara baik dan dalam tentang pasangannya. Itu sebabnya sering ketika berkeluarga terjadi salah paham sehingga menjurus ke cekcok dan perceraian. Setelah cerai, alasan yang utama disampaikan ke infotaiment atau ke orang lain adalah karena sudah tidak ada kecocokkan.
Yesus menegaskan kembali pertanyaanNya supaya jangan hanya tumbuh di dalam pikiran dan hati mereka tentang KATA ORANG LAIN (ninna halak). Kalau hanya bergantung kepada kata orang ; ini yang membuat kita belum mengenalnya dengan sungguh-sungguh. Dan bisa saja itu tidak benar, hanya perkiraan saja.
Petrus muncul dengan pernyataan yang 100 % benar dan sebenarnya dia sungguh mengenal Yesus. Petrus mengatakan : Engkau adalah  Mesias, Anak Allah yang hidup”. Bila kita ingin kembali ketika pemilih murid-murid pertama di Matius 4:18-22, Yesus menjadikan Petrus murid yang pertama. Tanpa ada bantahan dan pertanyaan, Yesus mengatakan : Mari dan ikutlah Aku? Akhirnya Petrus dan Andreas serta Yohanes dan Yakobus mengikuti Yesus. Pernyataan Petrus membuat dia menjadi Murid yang utama bagi Yesus, bahkan Yesus menetapkan atas Petrus gereja awal di dunia ini. “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya”, “kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga, apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga”. Betapa luarbiasanya kuasa yang diberikan Yesus kepada Petrus di situ.
Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Yesus terhadap Petrus tentang terbentuknya gereja bukanlah makna harafiah. Tetapi Yesus mau menjelaskan bahwa melalui pelayanan Petrus dan Iman kepada Yesus akhirnya munculnya jemaat pertama. (bandingkan di Kisah 2 tentang Pentakosta). Dari pengakuan Petrus itulah makna Gereja yang sesungguhnya yaitu kumpulan orang-orang percaya yang dipersatukan di dalam nama Yesus Kristus. Gereja tidak hanya gedungnya (fisiknya) tetapi gereja juga adalah persekutuan orang-orang percaya. Yesus pernah mengatakan : barang siapa berkumpul dua atau tiga orang di dalam namaKu disitulah aku berada.
Pertanyaan yang sangat penting di jaman sekarang ini adalah apakah kita masih berani menyaksikan nama Kristus di manapun kita berada? Pengakuan yang dimaksudkan bukanlah hanya sebatas untaian kata-kata yang indah, atau hanya pemanis di bibir saja. Justeru pengakuan itu lahir dari perenungan yang sangat dalam dan kesaksian hidup yang terus menerus di dalam hidup kita. Kalau kita berani menyaksikan bahwa Yesus itu adalah Messias di dalam hidup kita, maka sejalan atau selaras hidup kita juga harus mengalami transformasi ke arah Kristus yang kita imani itu. Kekristenan kita saat ini sudah perlu dipertanyakan kembali apakah kita benar-benar mengatakan seperti Petrus? Atau mungkinkah kekeristenan kita seperti mercu suar yang hanya berdiam di tempat dan tidak beranjak ke mana-mana?
Melalui Firman Tuhan ini, Iman kita dipertanyakan kembali : Siapakah yesus itu sesungguhnya di dalam hidup kita?
Akhir dari Firman ini, Yesus memintakan para murid untuk tidak memberitahukan dulu kepada orang lain. Yesus melihat bahwa mereka belum siap untuk menanggung resiko yang akan mereka hadapi tentang kesaksian mereka akan Yesus. Bahkan Yesus mau mengatakan waktunya belum datang. Karena bila mereka memproklamasikan tentang Yesus, mereka akan disiksa bahkan dibunuh. Begitu besar resiko yang akan mereka hadapi karena komitmen mengikuti Yesus. Tidak mudah sebenarnya mengikut Yesus di jaman sekarang ini. Apalagi bila mengikutinya dengan sungguh-sungguh. Namun bila kita mengimani mengikut Yesus itu sesuai dengan janjiNya di Matius 28 : 20b “Ketahuilah bahwa Aku akan menyertai engkau sampai pada akhir jaman”. Inilah jaminan yang pasti diberikan Tuhan kepada kita, bukan jaminan/garansi 1 tahun atau 3 tahun, tetapi jaminan selama-lamanya. Maka marilah kita selalu menSaksikan Yesus di dalam kehidupan kita sepanjang masa. Amin

Tidak ada komentar: